This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 09 April 2015

Konsep Pengethauan dan Kebudayaan Dalam Persepektif Islam

”KONSEP ILMU PENGETAHUAN DAN KEBUDAYAAN DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM” Oleh : Muhammad Ali Abstraksi Ilmu pengetahuan adalah kebutuhan mutlak manusia sebagai bekal yang diperlukan untuk memepertahankan dan meningkatkan derajat kemanusiaan. Dengan memperhatikan motivasi Al-Qur’an untuk menuntut ilmu, cara cara mendapatkan ilmu dalam Islam, dan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka lembaga pendidikan Islam harus selalu menggali ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Pendidikan dengan pendekatan kebudayaan mengharuskan adanya pendidikan yang multikultural, yaitu pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam merespons perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. A.PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan adalah kebutuhan mutlak manusia sebagai bekal yang diperlukan untuk memepertahankan dan meningkatkan derajat kemanusiaan. Manusia membutuhkan ilmu pengetahuan untuk menjangkau kehidupan duniawi dan ukhrawinya untuk mendapatkan kebahagiyaan dunia dan akherat. Posisi ilmu dalam Islam sangat sentral, vitalitas serta keutamaan ilmu terungkap dalam sanjungan dan kehormatan yang diberikan kepada para ilmuan, tersirat dalam wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, yang berupa kunci ilmu, yakni : membaca. Dengan memperhatikan motivasi Al-Qur’an untuk menuntut ilmu, cara cara mendapatkan ilmu dalam Islam, dan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka lembaga pendidikan Islam harus selalu menggali ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak ubahnya seperti suatu samudera ilmu pengetahuan, semakin dalam manusia mengarunginya semakin banyak ilmu pengetahuan yang diperolehnya, didalam pengembangan ilmu lembaga pendidikan Islam harus menggali ilmu pengetahuan baik dari sumber ayat qur’aniyah dan ayat kauniyah. Pendidikan dengan pendekatan kebudayaan mengharuskan adanya pendidikan yang multikultural, yaitu pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam merespons perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. Selain itu pendidikan multikultural dipersepsikan sebagai suatu jembatan untuk mencapai kehidupan bersama dari umat manusia di dalam era globalisasi yang penuh dengan tantangan-tantangan baru. Pendidikan multikultural yang mempunyai wajah baru, yaitu penghargaan akan kebudayaan dari masing-masing kelompok etnis. B. PEMBAHASAN 1.Pengertian Ilmu Pengetahuan Kata Ilmu berasal dari bahasa Arab, A’lama yang berarti pengetahuan. Kata ini sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris. Kata science itu sendiri memang bukan asli inggris, tetapi ia merupakan serapan dari bahasa Latin, scio, scire yang arti dasarnya pengetahuan. Ada juga yang menyebutkan bahwa science berasal dari bahasa Latin scire dan scientia yang berarti pengetahuan dan aktivitas mengetahui. Pengetahuan ( B. Indonesia) semakna dengan kata knowledge ( B. Inggris). Kata ini sering diartikan sebagai sejumlah informasi yang diperoleh manusia melalui pengamatan, pengalaman ( Empiri) dan penalaran ( rasio). Pengetahuan berbeda dengan ilmu atau Science( B. Inggris) terutama dalam pemakainya. Ilmu lebih menitik beratkan pada aspek teoritis dari sejumlah pengetahuan yang diperoleh dan dimiliki manusia, sedangkan pengetahuan tidak mensyaratkan adanya teoretisasi dan pengujian. Oleh karena itu kebenaran ilmu dapat digeneralisasi, karena ia diperoleh melalui sejumlah penelitian dan pembuktian, sedangkan pengetahuan belum dapat digunakan untuk proses generalisasi karena tidak menuntut penelitian dan pengkajian lanjutan. Setiap jenis pengetahuan, pada prinsipnya selalu berguna untuk memberikan jawaban terhadab berbagai pertanyaan yang muncul dari diri seseorang. Pengetahuan selalu memberi rasa puas dengan menangkap tanpa ragu terhadap sesuatu. Pengertian pengetahuan seperti itu membedakanya dengan ilmu yang selalu menghendaki penjelasan lebih lanjut dari apa yang dituntut oleh pengetahuan. Al– Ghozali mengartikan pengetahuan sebagai hasil aktifitas mengetahui, yakni : tersingkapnya suatu kenyataan kedalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya. Menurut Al-Ghozali, jiwa yang tidak ragu terhadap yang diketahui menjadi syarat mutlak untuk diterimanya pengetahuan. Hakikat ilmu bersifat koherensi sistemik. Artinya, ilmu harus terbuka kepada siapa saja yang mencarinya. 2. Cara Memperoleh Pengetahuan Dalam filsafat ilmu cara mendapatkan ilmu dinamakan epistimologi, dalam epistimologi Islam, pengetahuan dapat diperoleh dua cara yaitu Pertama melalui usaha manusia, kedua yang diberikan oleh Allah SWT. Pengetahuan yang diperoleh melalui usaha manusia ada 4 jenisnya, yaitu: 1. Pengetahuan empiris yang diperoleh melalui indera 2. Pengetahuan sains yang diperoleh melalui indra dan akal 3. Pengetahuan filsafat yang diperoleh melalui akal 4. Pengetahuan intuisi yang diperoleh melalui qalb(hati) Sedangkan pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT berupa: 1. Wahyu yang disampaikan kepada para rasul 2. Ilham yang diterima oleh akal manusia 3. Hidayah yang diterima oleh qalb manusia. Melalui cara tersebut di atas, berkembanglah ilmu keislaman dari masa ke masa. Al-Qur’an sebagai kumpulan wahyu Allah merupakan sumber pengetahuan Islam yang dapat digali sepanjang masa, ditambah lagi dengan hadis-hadis Rasullah SWT, di dalamnya terdapat prinsip-prinsip dasar berbagai cabang ilmu pengetahuan. Allah berfirman :     •             Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS.An Nahl:78). Dari ayat diatas, dapat dipahami cara memperoleh pengetahuan dapat dilakukan malalui pendengaran, pengelihatan dan melalui akal. Dengan mempergunakan potensi yang diberikan Allah tersebut manusia dapat menemukan, mendapatkan dan memahami berbagai ilmu pengetahuan. 3. Sumber dan Fungsi Pengetahuan Sumber utama dari ilmu pengetahuan dalam Islam adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kebenaran yang langsung disampaikan Tuhan kepada salah seorang hamba-Nya, yang dipilih-Nya, kemudian disebut Rasul atau Nabi. Al-Qur’an, di samping mengandung petunjuk-petunjuk dan tuntunan-tuntunan yang bersifat ubudiyah dan akhlaqiyah (moral), juga mengandung petunjuk-petunjuk yang dapat dipedomani manusia untuk mengolah dan menyelidiki alam semesta, atau untuk mengerti gejala-gejala dan hakekat hidup yang dihadapinya dari masa ke masa. Sebagai firman Allah SWT:              •            Artinya : Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS. Al An’aam :38). Ayat di atas, memberikan informasi kepada kita bahwa di dalam Al-Qur’an itu terdapat prinsip-prinsip dasar tentang berbagai aspek kehidupan keduniawian maupun kehidupan keakhiratan. Oleh karena itu, manusia berkewajiban untuk mencari dan menggali dari prinsip-prinsip dasar dalam Al-Qur’an dengan menggunakan kemampuan-kemampuan ijtihad dan daya analisa yang terdapat dalam diri manusia. Dengan demikian Al-Qur’an sebagai Wahyu Allah yang terakhir di dunia ini merupakan sumber yang tidak kering-keringnya untuk pengembangan berbagai bidang kehidupan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, Al-Qur’an merupakan ayat Allah beriringan dan berdampingan dengan sunnatullah yang menjadi dasar pergerakan dan perjalanan alam ini. Sehingga antara alam denga Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena keduanya saling menafsirkan dan saling memberi petunjuk kepada manusia mengenai jalan yang harus ditempuh untuk mencapai kesejahteraan duniawi dan kesejahteraan ukhrawi. 4. Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Islam Pemahaman ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam dapat ditelusuri dan dikaji,ternyata Islam sebagai ajaran Allah SWT dan sunah Rasulullah berkembang dalam sejarah bukan hanya sebagai agama, melainkan juga sebagai kebudayaan dan peradaban manusia. Islam pada awalnya memang lahir sebagai agama dimekah. Tetapi kemudian tumbuh dan berkembang di Madinah menjadi Negara, selanjutnya membesar di Damsyik menjadi kekuasaan politik internasional yang luas. Islam mengajarkan tentang kewajiban menuntut ilmu dan mengamalkanya. Bagi umat islam, Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran agama Islam mengandung perintah untuk menuntut ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5. Ada beberapa istilah yang dipakai untuk menyebutkan ilmu pengetahuan, seperti istilah ilmu, pengetahuan, al-ilm dan sains. Dalam konteks Islam, sains tidak menghasilkan kebenaran absolut. Istilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-ilm, karena memiliki dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wahyu atau Al-qur’an yang mengandung kebenaran absolut. Kedua , bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama valid; semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas bagian yang sangat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Oleh karena itu, al-‘ilm jauh lebih jujur dibanding sains. al-‘ilm meletakan nilai-nilai di permukaan agar jelas dan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai aturan main yang harus ditaati. Berbeda dengan al-‘ilm, sains modern barat terlanjur mempercayakan manusia mampu memecahkan segala sesuatu melalui kemampuan berpikirnya. Ternyata, masih banyak yang tidak terpecahkan oleh kerja pikir manusia, meskipun termasuk wilayah pemikiran, apalagi terhadap wilayah yang tidak dapat diteliti, manusia tentu tidak memiliki kesanggupan sama sekali untuk mengungkapkan rahasia-rahasianya. Sedangkan al-‘ilm mengakui keterbatasan-keterbatasan manusia dalam menagkap pengetahuan, sehingga dalam wilayah yang tidak bisa ditangkap manusia ini al-‘ilm menyandarkan pada bantuan wahyu. Allah lah yang menggenggam rahasia rahasia itu kemudian diinformasikan kepada manusia melalui wahyu. Dari sini tampak dengan jelas bahwa al-‘ilm memiliki cakupan yang lebih luas, daripada sains. Konsep al-‘ilm melampui wilayah-wilayah yang biasa dijadikan pemetaan secara sistemik, yaitu suatu konsep ilmu yang tidak hanya tersusun dari segi-segi apa (ontologi) bagaimana (epistomologi) dan utuk apa (aksiologi), tetapi juga dari segi-segi darimana, kenapa dan mau kemana. Konsep ilmu yang demikian ini barulah dapat disebut all-comprehensive, apabila telah melalui pengujian dengan menggunakan tolak ukur dengan sistem nilai: benar-salah, baik buruk, halal-haram, adil-zalim, dan manfaat-madarat. Al-‘ilm memandang, bahwa permasalahan-permasalahan ilmu pengetahuan pada tingkat elementer saja, tidak mungkin tuntas hanya dilihat dari ontologi, epistomologi, dan aksiologi, tetapi juga dari segi sumbernya, alasannya, arahnya dan sebagainya. Maka tidak mengherankan, jika kemudian elemen-elemen itu diuji melalui sistem nilai untuk mengetahui kadar kegunaan bagi peningkatan kesejahteraan manusia lahir dan batin. Di kalangan muslim telah memiliki landasan teologis, bahwa surah al-‘alaq : 1-5 diterima sebagai informasi bahwa Allah Swt. Itulah sumber segala ilmu yang kemudian diajarkan kepada manusia. Islam memandang, bahwa sumber utama ilmu adalah Allah. Selanjutnya, Allah memberi kekuatan-kekuatan kepada manusia. Secara terinci, Islam mengakui, bahwa sumber atau saluran ilmu lebih banyak dari sekedar yang diakui oleh ilmuwan barat. Al-Syaibany mengatakan, bahwa pengalaman langsung, pemerhatian dan pengamatan indera hanya sebagian dari sumber-sumber tersebut. Sumber-sumber ini, meskipun banyak macam dan jenisnya, dapat dikembalikan pada lima sumber pokok yaitu, indera, akal instuisi, ilham dan wahyu ilahi. Indera memang bisa diakui sebagai sumber pengetahuan, walaupun hasilnya paling rendah kualitasnya. Sedangkan unsur-unsur indera yang mendapatkan perhatian Alquran sehubungan dengan kapasitasnya sebagai sumber pengetahuan adalah pendengaran dan penglihatan. Irfan Akhmad Dahlan menyatakan, bahwa menurut anjuran Al-Qur’an sumber-sumber pengetahuan pada dasarnya ada tiga, yaitu sama’ (pendengaran), basar (penglihatan), dan fu’ad (hati). Fu’ad adalah yang terpenting diantara tiga ketiga sumber/kemampuan itu. Adapun sumber atau kemampuan yang keempat adalah wahyu. Pendengaran dan penglihatan mendapatkan perhatian sebagai sumber pengetahuan dari unsur indera barangkali, karena kedua kemampuan itulah yang paling cepat menangkap fakta-fakta dibanding unsur indera lainnya. Apa yang didengar manusia, jika ia sebagai informasi yang baru, maka merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi kepentingan ilmu pengetahuan. Hasil pendengaran ini jika memungkinkan akan ditindaklanjuti melalui kemampuan penglihatan. Di samping itu, penglihatan juga bisa menangkap fakta-fakta secara mandiri, terlepas dari hasil pendengaran ketika penglihatan langsung berhubungan dengan fakta-fakta pengetahuan. Pengetahuan yang dihasilkan indera disebut pengetahuan empirik, sebagaimana disebutkan dimuka, bahwa kualitas kebenaran pengetahuan ini tergolong paling rendah kendati juga masih ada kebenaran yang diperoleh. Bahkan sejumlah orang menyimpulkan, “dalam babak terakhir” ilmu empirik tidak akan mampu memberikan penjelasan tentang apa saja, dan pada akhirnya ia tidak dapat melangkah lebih jauh daripada memberikan sebuah jawaban atas pertanyaan “bagaimana”. Sebab jawaban atas pertanyaan “bagaimana” ini bisa dihasilkan dari pengamatan secara inderawi. Pertanyaan “bagaimana” memiliki dua konotasi pemahaman, yaitu dengan cara apa dan keadaan. Keduanya bisa dijelaskan melalui indera. Sebaliknya, misalnya pada pertanyaan “apa”, itu saja tidak seluruh jawabannya bisa dihasilkan melalui indera. Adakalanya pertanyaan “apa” menuntut jawaban di luar kemampuan indera, khususnya ketika pertanyaan ini bermaksud meminta jawaban tentang hakekat sesuatu. Untuk mengetahui hakekat paling tidak didasarkan akal kemudian dikokohkan wahyu. Keseimbangan tersebut selanjutnya mengakibatkan adanya klasifikasi atau kategorisasi pengetahuan. Dari segi sumber pengetahuan dan alat memperolehnya, pengetahuan dapat dibagi menjadi pengetahuan saintifik, pengetahuan logika, pengetahuan intuisi dan perasaan, pengetahuan ilham dan kasyaf, dan pengetahuan yang diwahyukan. Sedangkan Ibn Butlan menyerdehanakan klarifikasi ilmu menjadi tiga cabang besar saja: ilmu-ilmu (keagamaan) islam, ilmu filsafat dan ilmu-ilmu alam, dan kesusastraan. Hubungan antara ketiga cabang ini digambarkan sebagai segi tiga: sisi sebelah kanan adalah ilmu agama, sisi sebelah kiri ilmu filsafat dan ilmu alam, dan sisi bawah adalah kesustraan. Dua pembagian ilmu pengetahuan ini tampak berbeda. Terlepas dari perbedaan itu, yang jelas keduanya memiliki perhatian dan menegaskan, bahwa memang ada ilmu-ilmu yang yang bersumber dari wahyu tuhan secara langsung. Hanya saja penyerdehanaan Ibn Butlan tersebut menghasilkan dikotomi antara ilmu-ilmu islam dan non islam yang akhir-akhir ini menjadi persoalan serius, karena banyak ditentang oleh pemikir muslim kontemporer. Sebenarnya, pemikir-pemikir islam lainnya juga menaruh perhatian pada klasifikasi ilmu pengetahuan itu, seperti Al-Farabi, Al-Ghazali, maupun Quthb Al-Din Al-Syirazi. Mereka menawarkan klasifikasi yang tidak seragam. Kendati demikian, lagi-lagi mereka sepakat untuk mengakui adanya ilmu yang bersumber dari agama. Demikianlah, sekilas konsep ilmu pengetahuan dalam persepektif islam yang memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan konsep sains dalam pandangan ilmuwan barat. Selanjutnya, konsep ilmu menurut islam ini ketika dihadapkan pada perkembangan dan aplikasi sains modern sekarang ini mendorong ilmuwan muslim cenderung melakukan islamisasi ilmu pengetahuan guna meluruska penyimpangan-penyimpangan sains Barat. 5.Karakteristik Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Islam a. Bersandar Pada Kekuatan Spiritual Dewasa ini, keprihatinan mulai muncul di kalangan pemikir muslim, terhadap watak sains modern Barat dan akibatnya yang ditimbulkannya. Sains ini telah dirasakan membahayakan umat Islam khususnya. Mereka bisa digiring menjadi komunitas yang tidak memiliki kepekaan sosial sama sekali. Mereka selalu diarahkan untuk selalu bersikap individual dan mengunakan parameter-parameter kebendaan dalam mengukur kebahagian seseorang. Sains tersebut mengalami krisis spiritual yang parah. Ilmu pengetahuan Islam senantiasa berupaya untuk menerapkan metode-metode yang berlainan sesuai dengan watak subjek yang dipelajari dan cara-cara memahami subjek tersebut. Para ilmuan muslim dalam mengembangkan beraneka ragam cabang pengetahuan telah menggunakan setiap jalan pengetahuan yang terbuka bagi manusia dari rasionalisasi dan interpretasi. b. Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal Karakter ilmu dalam islam yang kedua adalah didasarkan hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal. Keduanya tidak bertentangan karena terdapat titik temu. Oleh karena itu, ilmu dalam islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedang wahyu datang memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal. Maka ilmu dalam islam memiliki sumber yang lengkap apalagi dibandingkan dengan sains barat. Atas dasar pertimbangan inilah, “Pendamaian fisalfat dan agama menjadi harapan dan aspirasi hampir seluruh filosof Muslim”. Rata-rata mereka memiliki konsep konsep yang menggambarkan betapa mesra dan harmonis hubungan antara wahyu dan akal, atau antara agama dengan filsafat (ilmu). Konsep ini memiliki makna yang signifikan terutama untuk mempertegas, bahwa ilmu dalam islam memiliki nilai-nilai trasendental, suatu nilai yang paling tinggi derajatnya. Disamping itu juga dapat mempertegas, bahwa ilmu dalam islam tidak mengenal pertengkaran antara wahyu dengan akal. “ Al-Kindi adalah filosof pertama dalam islam, yang menyelaraskan antara agama dan filsafat. Dia melicinkan jalan bagi Al-Farabi, ibn Sina dan ibn Rusyd.” Usaha penyelaras Al-kindi ini berperan mengembangkan filsafat sinkretis atau sinkritisme yang memiliki keistimewaan karakter dari system yang dimiliki hampir seluruh filosof muslim. Mulai dari Al-Kindi inilal mereka berusaha mengusahakan persesuaian antara agama dan filsafat. Mereka mengajukan bentuk akidah melalui kesesuaian keduanya. Mereka mencoba mengungkapkan aspek-aspek yang dapat dipertemukan diantara keduanya, dengan tetap mengakui adanya perbedaan-perbedaan pada aspek tertentu lainnya, sebab pasti ada perbedaan-perbedaan tertentu di antara keduanya yang tidak bisa diingkari. Usaha penyelarasan agama dan filsafat yang dirintis Al-Kindi tersebut tidaklah sia-sia, karena diteruskan oleh filosof muslim berikutnya, seperti Ibn Rusyd. Melalui penafsiran secara rasional, dia mewarnai keselarasan antara agama dan filsafat. Tradisi pemikiran yang senantiasa menyelaraskan agama dengan filsafat (ilmu) atau wahyu dengan akal ini terus berlanjut hingga perkembangan yang terjadi paling akhir sekarang ini di kalangan para filosof maupun ilmuwan Muslim. Berdasarkan pengamatan mereka terhadap fungsi wahyu dan akal, maka mereka menyakini sepenuhnya, bahwa ada titik pertemuan antara keduanya. Keyakinan ini tidak tergoyahkan sedikit pun mengingat telah jelas fungsi dan peranan masing-masing yang manfaatnya dapat dirasakan bersama. Akal dapat menemukan kebenaran, apalagi wahyu justru memberikan kebenaran itu tanpa upaya penelusuran. Sayang sekali Ibn Rusyd gagal menanamkan pengaruhnya tentang keselarasan antara wahyu dan akal di barat. Dalam kenyataannya, para ilmuwan mengingkari pasangan ilmu dan agama. Mereka mengambil pesan agama dengan bahasa ilmu. Mereka hidup dalam keterpecahan sepanjang waktu. Mereka memisahkan bidang agama dan bidang ilmu, padahal bidang itu pada dasarnya menyeluruh. Maka ada sebagian para ilmuwan mengadakan perlawanan antara akal dan agama, kemudian mereka menciptakan perlawanan antara akal dan perolehan untuk menjauhkan pengelihatan menyeluruh dan hanya berkutat pada bagian-bagian. Mereka kurang menyadari, bahwa sesungguhnya ilmu tanpa didampingi agama akan mmenyimpang dari akidah yang benar atau kebablasan, seperti kecondongan “mendewakan” akal, sedangkan agama tanpa didampingi ilmu akan dirasakan sebagai doktrin-doktrin semata yang membelenggu penalaran dan pemikiran seseorang, karena tidak ada penjelasan-penjelasan yang memadai dari agama, yang ada hanya ketentuan-ketentuan normatif. Oleh karena itu, menurut M. Arifin, “ dalam islam tidak dikenal adanya ilmu pengetahuan religius dan non religius( sekuler).” Semua ilmu pada hakekatnya berasal dari Allah, sehingga tidak terdapat dikotomi antara yang religius dan sekuler. Prinsip ini menjadi karakter ilmu pengetahuan dalam islam. c. Interpendensi Akal dengan Intuisi. Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatasan penalaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi, dan begitu pula sebaliknya, intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing. Dalam proses pemahaman kebenaran, akal dan intuisi harus saling menunjang satu sama lain. Pemberian prioritas pada salah satunya, akan menyesatkan. Untuk domain Yang Maha Gaib, tanpa dukungan iman, penalaran manusia tidak punya akses sama sekali. Selanjutnya, bahkan pascal melihat dengan jelas, bahwa perkembangan rasional tidak pernah akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling esensial. Bukan lantaran pikiranya, melainkan berkat rahmat Tuhanlah, paradoks-paradoks eksistensi manusia bias teratasi. d. Memiliki Orientasi Teosentris Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah dan ini merupakan satu perbedaan mendasar antara ilmu dan sains, maka implikasinya berbeda sama sekali dengan sains, ilmu dalam islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya ilmu tersebut mengemban nilai nilai ketuhanan, sebagai ilmu yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika Sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan maka ilmu dalam Islam selalu dioroentasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagian Hakiki. Identitas keagamaan yang melekat pada Ilmuan islam dalam mekanisme kerjanya tidak sekedar sebagai sesuatu yang berada diluar sama sekali. Identitas keagamaan itu dalam realitasnya turut serta mempengaruhi rangkain proses pola-pola berfikirnya dalam upaya mendapatkan pengetahuan. Di sini iman memainkan peranan yang penting sekali. e. Terikat nilai Etika tidak diperhatika dalam tradisi keilmuan Barat, sehingga Barat mampu mencapai sains dan teknologi, namun kemajuan tersebut sesungguhnya semu dan mengalami kepincangan mengingat dalam waktu yang bersamaan menimbulkan dekadensi moral yang sangat parah. Berbeda dengan tradisi Barat tersebut, tradisi keilmuan Islam sejak dini memiliki perhatian besar pada etika. Pada prinsipnya etika diyakini memiliki peranan yang sangat besar dalam menuntun perkembangan pengetahuan dan respons masyarakat, sehingga pertimbangan pertimbangan aksiologis selalu ditempatkan menyertai pertimbangan-pertimbangan epistomologis, disamping mampu mencapai kemajuan juga mampu mempertahankan keutuhan moralitas yang positif. A. Rashid Moten menegaskan, “ Dalam Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan. Dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dan agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini. 6. Implikasi Ilmu Pengetahuan Terhadap Pendidikan Dengan memperhatikan motivasi Al-Qur’an untuk menuntut ilmu, cara cara mendapatkan ilmu dalam islam, dan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka lembaga pendidikan Islam harus selalu menggali ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam Al-Quran. Al-quran tidak ubahnya seperti suatu samudera ilmu pengetahuan, makin sanggup manusia mengarunginya semakin banyak hasil yang yeng diperolehnya. Di dalam pengembangan ilmu lembaga pendidikan islam harus menggali ilmu pengetahuan dari sumbernya berupa ayat Quraniyah dan ayat kauniyah. Lembaga pendidikan Islam harus selalu menanamkan terhadap peserta didiknya, bahwa usaha untuk mempelajari, menggali dan mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya itu dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT sebagai Khaliq ilmu pengetahuan, Karena semua ilmu tersebut bersumber dari Allah SWT, maka dimana ilmu yang berguna untuk kehidupan di dunia dan di akhirat wajib dipelajari, dan merupakan kurikulum pada lembaga pendidikan Islam. Oleh karena dilembaga pendidikan Islam tidak terdapat dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, karena semua ilmu itu adalah ilmu keislaman. 7.Kebudayaan Dalam Perspektif Pendidikan Islam 1. Pengertian dan tujuan kebudayaan Kata kebudayaan berasal dari kata Sansekerta, budhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Demikianlah kebudayaan itu dapat diartikan ” hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Ada sarjana lain yang mengupas kata budaya itu sebagai perkembangan dari kata budi daya yang berarti daya dari budi. Karena itu mereka membedakan budaya dari kebudayaan. Budaya itu daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa itu. Dalam kata antropologi budaya, tidak diadakan perbedaan arti antara budaya dan kebudayaan. Di sini kata budaya hanya dipakai untuk singkatannya saja, untuk menyingkat kata panjang antropologi kebudayaan. A. L. Kroeber dan cyde Kluckhohn, dalam bukunya Cultural : dalam Cultural : A Critical Reveiew of and Definition, telah mengumpulkan kurang lebih 161 definisi tentang kebudayaan. Pada garis besarnya, definisi kebudayaan, dengan jumlah tersebut, terbagi dalam berbagai kelompok yang meninjau kebudayaan dari berbagai sudut pandang. Pertama, kelompok yang menggunakan pendekatan yang deskriptif yang menekankan pada sejumlah isi yang terkandung di dalamnya. Ke dalam definisi ini termasuk definisi kebudayaann yang dikemukakan oleh Taylor. Menurutnya, kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang mencakup ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang diterima manusia sebagai anggota masyarakat. Kedua, kelompok yang menggunakan pendekatan historis yang menekankan pada warisan sosial dan tradisi. Kedalam kelompok yang ke dua ini, definisi kebudayaan yang dikemukakan Park dan Burgess yang mengatakan, bahwa kebudayaan sesuatu masyarakat adalah sejumlah total dan organisasi dari warisan sosial yang diterima sebagai sesuatu yang bermakna yang dipengaruhi oleh watak dan sejarah hidup suatu bangsa. Ketiga, kelompok yang menggunakan pendekatan normatif yang antara lain menekankan pada aspek peraturan, cara hidup, ide atau nilai-nilai dan perilaku. Termasuk ke dalam kelompok ketiga ini adalah definisi kebudayaan dari Linton yang menegaskan, bahwa kebudayaan suatu masyarakat adalah suatu pandangan hidup dari sekumpulan ide-ide dan kebiasaan kebiasaan yang mereka pelajari dan miliki kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Keempat, kelompok yang menggunakan pendekatan psikIogi, yang antara lain menekankan pada aspek penyesuaian diri (adjustment) dan proses belajar. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah definisi kebudayaan yang dibuat oleh Kluckhohn yang menegaskan, bahwa kebudayaan terdiri dari semua kelangsungan proses belajar suatu masyarakat. Kelima, kelompok yang menggunakan pendekatan struktural dengan menekankan pada aspek pola dan organisasi kebudayaan. Termasuk dalam kelompok ini adalah definisi kebudayaan dari Turney yang mengatakan bahwa kebudayaan adalah pekerjaan dan kesatuan aktivitas sadar manusia yang berfungsi membentu pola umum dan melangsungkan penemuan-penemuan baik yang material maupun non material. Keenam, kelompok yang menggunakan pendekatan genetik yang memandang kebudayaan sebagai suatu produk, alat-alat, benda-benda ataupun ide dan simbol. Termasuk ke dalam kelomokok ini definisi yang dibuat oleh Bidney yang mengatakan,bahwa kebudayaan dapat dimengerti sebagai proses dinamis dan produk dari pengelolaan diri manusia dan lingkungannya untuk pencapaian tujuan akhir individu dan masyarakat. Adanya definisi kebudayaan sebagaimana tersebut di atas, diduga karena beberapa alasan sebagai berikut. Pertama, kebudayaan dapat dilihat dari semua sisi dan aspek. Kebudayaan dapat dilihat dari segi agama, sosial, poiitik, hukum, teologi,filsafat, dan lain sebagainya. Dengan demikian, semua para ahli dapat melihatnya sesuai dengan bidang keahliannya. Kedua, kebudayaan terkait erat dengan kehidupan manusia, karena budayaan pada hakikatnya merupakan refleksi kegiatan manusia yang diteorisasikan atau dikonsepsikan. Ketiga, kebudayaan dapat dilihat sebagai sebuah objek yang menarik,karena setiap orang dapat menafsirkannya sesuai dengan cara pandangnya masing-masing. Berkenaan dengan berbagai definisi kebudayaan tersebut, Musa Asy'ari berpendapat bahwa kebudayaan adalah suatu soal yang sangat luas. Akan tetapi, jika diamati secara saksama, ternyata kebudayaan adalah pokok soal yang melekat pada manusia. Secara ontologis, kebudayaan itu ada karena adanya manusia. Kebudayaan berpusat pada pikiran dan hati manusia. Kebudayaan dapat pula disebut sebagai aktivitas pemikiran. Kebudayaan sebagai sebuah tata nilai, aturan, norma, hukum, pola pikir, dan sebagainya itu adalah merupakan sebuah konsep yang dihasilkan melalui proses akumulasi, transformasi dan pergumulan dari berbagai nilai yang bergumul menjadi satu dan membentuk sebuah kebudayaan. Nilai-nilai yang tergabung dalam kebudayaan tersebut berasal dari sumbangan yang diberikan oleh agama, adat-istiadat, tradisi, dan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat. Di antara nilai-nilai yang berkontribusi tersebut yang paling besar sumbangannya adalah nilai agama. Hal ini terjadi, karena agama telah menyatu dalam sistem keyakinan manusia yang selanjutnya dimanifestasikan dalam tata nilai. Selain itu, agama juga memiliki nilai yang amat kuat karena berasal dari keyakinan terhadap Tuhan, dan ajaran-Nya sebagaimana terdapat dalam kitab suci yang diturunkan-Nya. Namun demikian, terdapat perbedaan yang esensial antara kebudayaan dan kitab suci. Kebudayaan berasal dari manusia, sedangkan kitab suci berasal dari Tuhan. Kitab suci bukanlah kebudayaan, tetapi pemahaman atas kitab suci itulah yang disebut kebudayaan. Namun demikian, kebudayaan yang dipengaruhi oleh ajaran kitab suci tidak sama dengan kebudayaan sekuler yang sepenuhnya berdasar pada hasil pemikiran manusia. Kebudayaan yang dipengaruhi kitab suci akan sejalan dengan ajaran agama, dan karenanya saling terkait. Kehidupan manusia, dalam suatu masyarakat, tidak dapat lepas dari pengaruh kebudayaan yang mengitarinya. Pola pikir, ucapan, perbuatan, dan berbagai keputusan yang diambil oleh manusia senantiasa dipengaruhi oleh pandangan budayanya. C. SIMPULAN 1. Dalam epistimologi Islam, pengetahui diperoleh dua cara yaitu Pertama melalui usaha manusia, kedua yang diberikan oleh Allah SWT. 2. Sumber utama dari ilmu pengetahuan dalam Islam adalah Al-Qur’an. Al Hadis. 3. Pendidikan dengan pendekatan kebudayaan adalah konsep dan praktik pendidikan yang menjadikan kebudayaan selain sebagai bahan yang diajarkan, juga sebagai faktor yang digunakan dalam merancang dan melaksanakan konsep pendidikan. 4. Pendidikan dengan pendekatan kebudayaan dapat diimplementasikan dalam visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, pengelolaan, atmosfir akademik, dan pendidikan multikultural. 5. Pendidikan dengan pendekatan kebudayaan amat sejalan dengan masyarakat Indonesia yang pluralistik baik dari segi agama, budaya, bahasa, etnis, stratifikasi sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. REFERENSI Abd Al-Maqshud ’ Abd Al Maqshud, Al-Taufiq baina Al-Din wa Falsafah ‘inda falasifat Al- Islam fi Andalus, Al-Qahirah : Maktabah Al-Zahra Ahmad Fuad El-Ehwani, “ Al-Kindi” dalam M.M. Syarif (ed.), Para Filosof Muslim, Terj., Bandung : Mizan, 1998 Depag RI, Al-Quran Terjemah Per-Kata, Bandung: SYGMA, 2007 Fauzie Nurdin, Integralisme Islam dan Budaya Lokal, Yogyakarta : Gama Media, 2010 Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1973 Ibnu Rusdy, Fasl al- Maqal fima Baina Al- Hikmah wa Al- Syariah min Al-Ittisal, Miyunik, 1859 Koentjaraningrat, dalam Pengantar Antropologi ,Aksara Baru ; Jakarta cet. V, 1982 Muzamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik., (Jakarta : Erlangga, 2008. Mustafa Mahmud, Al-Islam…Ma Huwa….Al-Qahirah: Dar Al Ma’arif, t,t M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan ( Islam dan Umum), Jakarta : Bumi Aksara,1991 Rama yulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia,1999 Rohiman Notowidago, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran dan Hadits, 1995. Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam : Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesi.Jakarta : Kencana,2007 Ziauddin Sardar, Dimensi Ilmiah Al- Ilm, dalam Ziaudin Sardar (ed), Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim, Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto,Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000 Depag RI, Al-Quran Terjemah Per-Kata, Bandung: SYGMA, 2007 Nizar, Samsul. dkk. Filsafat pendidika Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 1999. Nurdin, Fauzie. Integralisme Islam dan Budaya Lokal, Yogyakarta : Gama Media, 2010. Qomar, Muzamil. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik., Jakarta : Erlangga, 2008. Ziaudin, Sardar. Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim, Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000. Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1973. Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam : Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesi. Jakarta : Kencana. 2007. Asy'arie, Musa. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam AI Qur'an,Yogyakarta:Lembaga Studi Filsafat lslam, 1992. Notowidago, Rohiman . Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran dan Hadits Arifin, M. Kapita Selekta Pendidikan ( Islam dan Umum), Jakarta : Bumi Aksara,1991.

Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Persepektif Pendidikan Islam

KONSEP ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Muhammad Ali Abstract Science is a necessary of human that need to endure and increase prestige of human. Concerning Al-Quran motivation is looking for science, the method to get a science in Islam and Al-Qur’an is one of source science, so institute of Islam education should get science in the Al-Qur’an. Close with education at a culture should get education multicultural, it is about the kinds of cultural of education in response for changing demographics and society culture or changing all in the world. Key Word : concept of knowledge, Islamic education. Pendahuluan Ilmu pengetahuan adalah kebutuhan mutlak manusia sebagai bekal yang diperlukan untuk memepertahankan dan meningkatkan derajat kemanusiaan. Manusia membutuhkan ilmu pengetahuan untuk menjangkau kehidupan duniawi dan ukhrawinya untuk mendapatkan kebahagiyaan dunia dan akherat. Posisi ilmu dalam Islam sangat sentral, vitalitas serta keutamaan ilmu terungkap dalam sanjungan dan kehormatan yang diberikan kepada para ilmuan, tersirat dalam wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, yang berupa kunci ilmu, yakni : membaca. Dengan memperhatikan motivasi Al-Qur’an untuk menuntut ilmu, cara-cara mendapatkan ilmu dalam Islam, dan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka lembaga pendidikan Islam harus selalu menggali ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an tidak ubahnya seperti suatu samudera ilmu pengetahuan, semakin dalam manusia mengarunginya semakin banyak ilmu pengetahuan yang diperolehnya, dengan demikian lembaga pendidikan Islam harus menggali ilmu pengetahuan baik dari sumber ayat qur’aniyah dan ayat kauniyah. Pembahasan 1.Pengertian Ilmu Pengetahuan Kata Ilmu berasal dari bahasa Arab, A’lama yang berarti pengetahuan. Kata ini sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris. Kata science itu sendiri memang bukan asli inggris, tetapi ia merupakan serapan dari bahasa Latin, scio, scire yang arti dasarnya pengetahuan. Ada juga yang menyebutkan bahwa science berasal dari bahasa Latin scire dan scientia yang berarti pengetahuan dan aktivitas mengetahui. Al– Ghozali mengartikan pengetahuan sebagai hasil aktifitas mengetahui, yakni : tersingkapnya suatu kenyataan kedalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya. Menurut Al-Ghozali, jiwa yang tidak ragu terhadap yang diketahui menjadi syarat mutlak untuk diterimanya pengetahuan. Hakikat ilmu bersifat koherensi sistemik. Artinya, ilmu harus terbuka kepada siapa saja yang mencarinya. 2. Cara Memperoleh Pengetahuan Dalam filsafat ilmu cara mendapatkan ilmu dinamakan epistimologi, dalam epistimologi Islam, pengetahuan dapat diperoleh dua cara yaitu Pertama melalui usaha manusia, kedua yang diberikan oleh Allah SWT. Pengetahuan yang diperoleh melalui usaha manusia ada 4 jenisnya, yaitu: 1. Pengetahuan empiris yang diperoleh melalui indera 2. Pengetahuan sains yang diperoleh melalui indra dan akal 3. Pengetahuan filsafat yang diperoleh melalui akal 4. Pengetahuan intuisi yang diperoleh melalui qalb(hati) Sedangkan pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT berupa: 1. Wahyu yang disampaikan kepada para rasul 2. Ilham yang diterima oleh akal manusia 3. Hidayah yang diterima oleh qalb manusia. Melalui cara tersebut di atas, berkembanglah ilmu keislaman dari masa ke masa. Al-Qur’an sebagai kumpulan wahyu Allah merupakan sumber pengetahuan Islam yang dapat digali sepanjang masa, ditambah lagi dengan hadis-hadis Rasullah SWT, di dalamnya terdapat prinsip-prinsip dasar berbagai cabang ilmu pengetahuan. Allah berfirman :     •             Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS.An Nahl:78). Dari ayat diatas, dapat dipahami cara memperoleh pengetahuan dapat dilakukan malalui pendengaran, pengelihatan dan melalui akal. Dengan mempergunakan potensi yang diberikan Allah tersebut manusia dapat menemukan, mendapatkan dan memahami berbagai ilmu pengetahuan. 3. Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Islam Pemahaman ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam dapat ditelusuri dan dikaji,ternyata Islam sebagai ajaran Allah SWT dan sunah Rasulullah berkembang dalam sejarah bukan hanya sebagai agama, melainkan juga sebagai kebudayaan dan peradaban manusia. Islam pada awalnya memang lahir sebagai agama dimekah. Tetapi kemudian tumbuh dan berkembang di Madinah menjadi Negara, selanjutnya membesar di Damsyik menjadi kekuasaan politik internasional yang luas. Islam mengajarkan tentang kewajiban menuntut ilmu dan mengamalkanya. Bagi umat islam, Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran agama Islam mengandung perintah untuk menuntut ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5. Ada beberapa istilah yang dipakai untuk menyebutkan ilmu pengetahuan, seperti istilah ilmu, pengetahuan, al-ilm dan sains. Dalam konteks Islam, sains tidak menghasilkan kebenaran absolut. Istilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-ilm, karena memiliki dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wahyu atau Al-qur’an yang mengandung kebenaran absolut. Kedua , bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama valid; semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas bagian yang sangat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Oleh karena itu, al-‘ilm jauh lebih jujur dibanding sains. al-‘ilm meletakan nilai-nilai di permukaan agar jelas dan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai aturan main yang harus ditaati. Berbeda dengan al-‘ilm, sains modern barat terlanjur mempercayakan manusia mampu memecahkan segala sesuatu melalui kemampuan berpikirnya. Ternyata, masih banyak yang tidak terpecahkan oleh kerja pikir manusia, meskipun termasuk wilayah pemikiran, apalagi terhadap wilayah yang tidak dapat diteliti, manusia tentu tidak memiliki kesanggupan sama sekali untuk mengungkapkan rahasia-rahasianya. Sedangkan al-‘ilm mengakui keterbatasan-keterbatasan manusia dalam menagkap pengetahuan, sehingga dalam wilayah yang tidak bisa ditangkap manusia ini al-‘ilm menyandarkan pada bantuan wahyu. Allah lah yang menggenggam rahasia rahasia itu kemudian diinformasikan kepada manusia melalui wahyu. Dari sini tampak dengan jelas bahwa al-‘ilm memiliki cakupan yang lebih luas, daripada sains. Konsep al-‘ilm melampui wilayah-wilayah yang biasa dijadikan pemetaan secara sistemik, yaitu suatu konsep ilmu yang tidak hanya tersusun dari segi-segi apa (ontologi) bagaimana (epistomologi) dan utuk apa (aksiologi), tetapi juga dari segi-segi darimana, kenapa dan mau kemana. Konsep ilmu yang demikian ini barulah dapat disebut all-comprehensive, apabila telah melalui pengujian dengan menggunakan tolak ukur dengan sistem nilai: benar-salah, baik buruk, halal-haram, adil-zalim, dan manfaat-madarat. Al-‘ilm memandang, bahwa permasalahan-permasalahan ilmu pengetahuan pada tingkat elementer saja, tidak mungkin tuntas hanya dilihat dari ontologi, epistimologi, dan aksiologi, tetapi juga dari segi sumbernya, alasannya, arahnya dan sebagainya. Maka tidak mengherankan, jika kemudian elemen-elemen itu diuji melalui sistem nilai untuk mengetahui kadar kegunaan bagi peningkatan kesejahteraan manusia lahir dan batin. Di kalangan muslim telah memiliki landasan teologis, bahwa surah al-‘alaq : 1-5 diterima sebagai informasi bahwa Allah Swt. Itulah sumber segala ilmu yang kemudian diajarkan kepada manusia. Islam memandang, bahwa sumber utama ilmu adalah Allah. Selanjutnya, Allah memberi kekuatan-kekuatan kepada manusia. Secara terinci, Islam mengakui, bahwa sumber atau saluran ilmu lebih banyak dari sekedar yang diakui oleh ilmuwan barat. Al-Syaibany mengatakan, bahwa pengalaman langsung, pemerhatian dan pengamatan indera hanya sebagian dari sumber-sumber tersebut. Sumber-sumber ini, meskipun banyak macam dan jenisnya, dapat dikembalikan pada lima sumber pokok yaitu, indera, akal instuisi, ilham dan wahyu ilahi. Indera memang bisa diakui sebagai sumber pengetahuan, walaupun hasilnya paling rendah kualitasnya. Sedangkan unsur-unsur indera yang mendapatkan perhatian Alquran sehubungan dengan kapasitasnya sebagai sumber pengetahuan adalah pendengaran dan penglihatan. Irfan Akhmad Dahlan menyatakan, bahwa menurut anjuran Al-Qur’an sumber-sumber pengetahuan pada dasarnya ada tiga, yaitu sama’ (pendengaran), basar (penglihatan), dan fu’ad (hati). Fu’ad adalah yang terpenting diantara tiga ketiga sumber/kemampuan itu. Adapun sumber atau kemampuan yang keempat adalah wahyu. Pendengaran dan penglihatan mendapatkan perhatian sebagai sumber pengetahuan dari unsur indera barangkali, karena kedua kemampuan itulah yang paling cepat menangkap fakta-fakta dibanding unsur indera lainnya. Apa yang didengar manusia, jika ia sebagai informasi yang baru, maka merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi kepentingan ilmu pengetahuan. Hasil pendengaran ini jika memungkinkan akan ditindaklanjuti melalui kemampuan penglihatan. Di samping itu, penglihatan juga bisa menangkap fakta-fakta secara mandiri, terlepas dari hasil pendengaran ketika penglihatan langsung berhubungan dengan fakta-fakta pengetahuan. 4.Karakteristik Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Islam a. Bersandar Pada Kekuatan Spiritual Dewasa ini, keprihatinan mulai muncul di kalangan pemikir muslim, terhadap watak sains modern Barat dan akibatnya yang ditimbulkannya. Sains ini telah dirasakan membahayakan umat Islam khususnya. Mereka bisa digiring menjadi komunitas yang tidak memiliki kepekaan sosial sama sekali. Mereka selalu diarahkan untuk selalu bersikap individual dan mengunakan parameter-parameter kebendaan dalam mengukur kebahagian seseorang. Sains tersebut mengalami krisis spiritual yang parah. Ilmu pengetahuan Islam senantiasa berupaya untuk menerapkan metode-metode yang berlainan sesuai dengan watak subjek yang dipelajari dan cara-cara memahami subjek tersebut. Para ilmuan muslim dalam mengembangkan beraneka ragam cabang pengetahuan telah menggunakan setiap jalan pengetahuan yang terbuka bagi manusia dari rasionalisasi dan interpretasi. b. Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal Karakter ilmu dalam islam yang kedua adalah didasarkan hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal. Keduanya tidak bertentangan karena terdapat titik temu. Oleh karena itu, ilmu dalam islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedang wahyu datang memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal. Maka ilmu dalam islam memiliki sumber yang lengkap apalagi dibandingkan dengan sains barat. “ Al-Kindi adalah filosof pertama dalam islam, yang menyelaraskan antara agama dan filsafat. Dia melicinkan jalan bagi Al-Farabi, ibn Sina dan ibn Rusyd.” Usaha penyelaras Al-kindi ini berperan mengembangkan filsafat sinkretis atau sinkritisme yang memiliki keistimewaan karakter dari system yang dimiliki hampir seluruh filosof muslim. Mulai dari Al-Kindi inilal mereka berusaha mengusahakan persesuaian antara agama dan filsafat. Mereka mengajukan bentuk akidah melalui kesesuaian keduanya. Mereka mencoba mengungkapkan aspek-aspek yang dapat dipertemukan diantara keduanya, dengan tetap mengakui adanya perbedaan-perbedaan pada aspek tertentu lainnya, sebab pasti ada perbedaan-perbedaan tertentu di antara keduanya yang tidak bisa diingkari. Oleh karena itu, menurut M. Arifin, “ dalam islam tidak dikenal adanya ilmu pengetahuan religius dan non religius( sekuler).” Semua ilmu pada hakekatnya berasal dari Allah, sehingga tidak terdapat dikotomi antara yang religius dan sekuler. Prinsip ini menjadi karakter ilmu pengetahuan dalam islam. c. Interpendensi Akal dengan Intuisi. Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatasan penalaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi, dan begitu pula sebaliknya, intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing. Dalam proses pemahaman kebenaran, akal dan intuisi harus saling menunjang satu sama lain. Pemberian prioritas pada salah satunya, akan menyesatkan. Untuk domain Yang Maha Gaib, tanpa dukungan iman, penalaran manusia tidak punya akses sama sekali. Selanjutnya, bahkan pascal melihat dengan jelas, bahwa perkembangan rasional tidak pernah akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling esensial. Bukan lantaran pikiranya, melainkan berkat rahmat Tuhanlah, paradoks-paradoks eksistensi manusia bias teratasi. d. Memiliki Orientasi Teosentris Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah dan ini merupakan satu perbedaan mendasar antara ilmu dan sains, maka implikasinya berbeda sama sekali dengan sains, ilmu dalam islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya ilmu tersebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai ilmu yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika Sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan maka ilmu dalam Islam selalu dioroentasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagian Hakiki. Identitas keagamaan dalam realitasnya turut serta mempengaruhi rangkain proses pola-pola berfikirnya dalam upaya mendapatkan pengetahuan, oleh karena itulah iman memainkan peranan yang penting sekali. e. Terikat nilai Etika tidak diperhatikan dalam tradisi keilmuan Barat, sehingga Barat mampu mencapai sains dan teknologi, namun kemajuan tersebut sesungguhnya semu dan mengalami kepincangan mengingat dalam waktu yang bersamaan menimbulkan dekadensi moral yang sangat parah. Berbeda dengan tradisi Barat tersebut, tradisi keilmuan Islam sejak dini memiliki perhatian besar pada etika. Pada prinsipnya etika diyakini memiliki peranan yang sangat besar dalam menuntun perkembangan pengetahuan dan respons masyarakat, sehingga pertimbangan pertimbangan aksiologis selalu ditempatkan menyertai pertimbangan-pertimbangan epistomologis, disamping mampu mencapai kemajuan juga mampu mempertahankan keutuhan moralitas yang positif. Simpulan 1. Dalam epistimologi Islam, pengetahui diperoleh dua cara yaitu Pertama melalui usaha manusia, kedua yang diberikan oleh Allah SWT. 2. Sumber utama dari ilmu pengetahuan dalam Islam adalah Al-Qur’an. Al Hadis. 3. Ilmu pengetahuan Islam senantiasa berupaya untuk menerapkan metode-metode yang berlainan sesuai dengan watak subjek yang dipelajari dan cara-cara memahami subjek tersebut. 4. Semua ilmu pada hakekatnya berasal dari Allah, sehingga tidak terdapat dikotomi antara yang religius dan sekuler. Prinsip ini menjadi karakter ilmu pengetahuan dalam islam. DAFTAR PUSTAKA Abd Al-Maqshud ’ Abd Al Maqshud, Al-Taufiq baina Al-Din wa Falsafah ‘inda falasifat Al- Islam fi Andalus, Al-Qahirah : Maktabah Al-Zahra, Ahmad Fuad El-Ehwani, “ Al-Kindi” dalam M.M. Syarif (ed.), Para Filosof Muslim, Terj., bandung : Mizan, 1998 Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu dari Hakikat Menuju Nilai,tp.tt Depag RI, Al-Quran Terjemah Per-Kata,Bandung: SYGMA, 2007 Fauzie Nurdin, Integralisme Islam dan Budaya Lokal,Yogyakarta : Gama Media, 2010 Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1973 Ibnu Rusdy, Fasl al- Maqal fima Baina Al- Hikmah wa Al- Syariah min Al-Ittisal, Miyunik, 1859 M M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan ( Islam dan Umum), Jakarta : Bumi Aksara,1991 Muzamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik., Jakarta : Erlangga, 2008. Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam : Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesi. Jakarta : Kencana,2007 Ziauddin Sardar, Dimensi Ilmiah Al- Ilm, dalam Ziaudin Sardar (ed), Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim, Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto,Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000

Senin, 04 Agustus 2014

ITerwujudnya Penikahan Yang Berkah



TERWUJUDNYA PERNIKAHAN YANG BERKAH.[1]
Muhammad Ali, M.Pd.I.[2]
                                                                                                          
Latar Belakang
Seorang yang melaksanakan aqad nikah, maka ia akan mendapatkan banyak ucapan do’a dari para undangan dengan do’a keberkahan sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW; “Semoga Allah memberkahimu, dan menetapkan keberkahan atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” Do’a ini sangat dalam bila kita renungkan, bahwa pernikahan seharusnya akan mendatangkan banyak keberkahan (mendatangkan kebaikan dan keselamatan) bagi pelakunya. Namun kenyataannya, kita mendapati banyak fenomena yang menunjukkan tidak adanya keberkahan hidup berumah tangga setelah pernikahan, baik di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan keluarga du’at (kader dakwah). Wujud ketidakberkahan dalam pernikahan itu bisa dilihat dari berbagai segi, baik yang bersifat materil ataupun non materil.
Munculnya berbagai konflik dalam keluarga tidak jarang berawal dari permasalahan ekonomi. Boleh jadi ekonomi keluarga yang selalu dirasakan kurang kemudian menyebabkan menurunnya semangat beramal/beribadah. Sebaliknya mungkin juga secara materi sesungguhnya sangat mencukupi, akan tetapi melimpahnya harta dan kemewahan tidak membawa kebahagiaan dalam pernikahannya.
Seringkali kita juga menemui kenyataan bahwa seseorang tidak pernah berkembang kapasitasnya walau pun sudah menikah. Padahal seharusnya orang yang sudah menikah kepribadiannya makin sempurna, dari sisi wawasan dan pemahaman makin luas dan mendalam, dari segi fisik makin sehat dan kuat, secara emosi makin matang dan dewasa, trampil dalam berusaha, bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan teratur dalam aktifitas kehidupannya sehingga dirasakan manfaat keberadaannya bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Realitas lain juga menunjukkan adanya ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga, sering muncul konflik suami isteri yang berujung dengan perceraian. Juga muncul anak-anak yang terlantar (broken home) tanpa arahan sehingga terperangkap dalam pergaulan bebas dan narkoba. Semua itu menunjukkan tidak adanya keberkahan dalam kehidupan berumah tangga.
Ada  2 jenis manusia ketika ditanya: “Anda ingin menikah dengan orang shalih/shalihah atau tidak?”. Manusia jenis pertama menjawab “Ya, tentu saja saya ingin”, dan inilah muslim yang masih bersih fitrahnya. Ia tentu mendambakan seorang suami atau istri yang taat kepada Allah, ia mendirikan shalat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ia menginginkan sosok yang shalih atau shalihah. Maka, jika orang termasuk manusia pertama ini agar ia mendapatkan pasangan yang shalih atau shalihah, maka ia harus berusaha menjadi orang yang shalih atau shalihah pula. Allah Azza Wa Jalla berfirman :
àM»sWÎ7sƒø:$# tûüÏWÎ7yù=Ï9 šcqèWÎ7yø9$#ur ÏM»sWÎ7yù=Ï9 ( àM»t6Íh©Ü9$#ur tûüÎ6Íh©Ü=Ï9 tbqç7ÍhŠ©Ü9$#ur ÏM»t6Íh©Ü=Ï9 4 y7Í´¯»s9'ré& šcrâä§Žy9ãB $£JÏB tbqä9qà)tƒ ( Nßgs9 ×otÏÿøó¨B ×-øÍur ÒOƒÌŸ2 ÇËÏÈ  
Artinya : wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)[1034].
Ayat ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik Maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.
Sedangkan manusia jenis kedua menjawab: “Ah saya sih ndak mau yang alim-alim” atau semacam itu. Inilah seorang muslim yang telah keluar dari fitrahnya yang bersih, karena sudah terlalu dalam berkubang dalam kemaksiatan sehingga ia melupakan Allah Ta’ala, melupakan kepastian akan datangnya hari akhir, melupakan kerasnya siksa neraka. Yang ada di benaknya hanya kebahagiaan dunia semata dan enggan menggapai kebahagiaan akhirat. Kita khawatir orang-orang semacam inilah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai orang yang enggan masuk surga. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?’. Beliau bersabda: “Yang taat kepadaku akan masuk surga dan yang ingkar terhadapku maka ia enggan masuk surga” (HR. Bukhari)

Memperhatikan fenomena kegagalan dalam menempuh kehidupan rumah tangga sebagaimana penulis paparkan di atas, maka penulis berasumsi ini sangat penting untuk di kaji dalam  Kajihan Syariat Muslimah (KARIMAH) LDK Al-Islah STAIN Jurai Siwo Metro Lampung sebagai calon-calon generasi masa depan agama yang akan melahirkan  muslimah pembaharu peradaban yang berakhlak mulia  dalam keluarga dan bermasyarakat dengan  pradigma berpikir terciptanya kebahagiaan dunia dan akherat.  
Pembahasan
Dari penomena yang penulis paparkan di atas maka ada beberapa  kiat-kiat  yang kami tawarkan agar tetap mendapatkan keberkahan dalam meniti hidup berumah tangga   ?
1. Meluruskan niat/motivasi (Ishlahun Niyat)
Motivasi menikah bukanlah semata untuk memuaskan kebutuhan biologis/fisik. Menikah merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT sebagaimana diungkap dalam Alqur’an
(QS. Ar Rum:21).
ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômuur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ  
Artinya : dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Menikah juga merupakan perintah Allah SWT (QS. An-Nur:32)
(#qßsÅ3Rr&ur 4yJ»tƒF{$# óOä3ZÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$#ur ô`ÏB ö/ä.ÏŠ$t6Ïã öNà6ͬ!$tBÎ)ur 4 bÎ) (#qçRqä3tƒ uä!#ts)èù ãNÎgÏYøóムª!$#
 `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù 3 ª!$#ur ììźur ÒOŠÎ=tæ ÇÌËÈ  
Artinya : dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian[1035] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.
yang berarti suatu aktifitas yang bernilai ibadah dan merupakan Sunnah Rasul dalam kehidupan sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadits : ”Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah maka tidaklah ia termasuk golonganku” (HR.At-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Oleh karena nikah merupakan sunnah Rasul, maka selayaknya proses menuju pernikahan, tata cara (prosesi) pernikahan dan bahkan kehidupan pasca pernikahan harus mencontoh Rasul. Misalnya saat hendak menentukan pasangan hidup hendaknya lebih mengutamakan kriteria ad-Dien (agama/akhlaq) sebelum hal-hal lainnya (kecantikan/ketampanan, keturunan, dan harta); dalam prosesi pernikahan (walimatul ‘urusy) hendaknya juga dihindari hal-hal yang berlebihan (mubadzir), tradisi yang menyimpang (khurafat) dan kondisi bercampur baur (ikhtilath). Kemudian dalam kehidupan berumah tangga pasca pernikahan hendaknya berupaya membiasakan diri dengan adab dan akhlaq seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.
َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( تُنْكَحُ اَلْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا , وَلِحَسَبِهَا , وَلِجَمَالِهَا , وَلِدِينِهَا , فَاظْفَرْ بِذَاتِ اَلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَمُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مَعَ بَقِيَّةِ اَلسَّبْعَةِ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia." Muttafaq Alaihi dan Imam Lima.
Menikah merupakan upaya menjaga kehormatan dan kesucian diri, artinya seorang yang telah menikah semestinya lebih terjaga dari perangkap zina dan mampu mengendalikan syahwatnya. Allah SWT akan memberikan pertolong-an kepada mereka yang mengambil langkah ini; “ Tiga golongan yang wajib Aku (Allah) menolongnya, salah satunya adalah orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR. Tarmidzi)
Menikah juga merupakan tangga kedua setelah pembentukan pribadi muslim (syahsiyah islamiyah) dalam tahapan amal dakwah, artinya menjadikan keluarga sebagai ladang beramal dalam rangka membentuk keluarga muslim teladan (usrah islami) yang diwarnai akhlak Islam dalam segala aktifitas dan interaksi seluruh anggota keluarga, sehingga mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi masyarakat sekitarnya. Dengan adanya keluarga-keluarga muslim pembawa rahmat diharapkan dapat terwujud komunitas dan lingkungan masyarakat yang sejahtera.
2. Sikap saling terbuka (Mushorohah)
Secara fisik suami isteri telah dihalalkan oleh Allah SWT untuk saling terbuka saat jima’ (bersenggama), padahal sebelum menikah hal itu adalah sesuatu yang diharamkan. Maka hakikatnya keterbukaan itu pun harus diwujudkan dalam interaksi kejiwaan (syu’ur), pemikiran (fikrah), dan sikap (mauqif) serta tingkah laku (suluk), sehingga masing-masing dapat secara utuh mengenal hakikat kepribadian suami/isteri-nya dan dapat memupuk sikap saling percaya (tsiqoh) di antara keduanya.
Hal itu dapat dicapai bila suami/isteri saling terbuka dalam segala hal menyangkut perasaan dan keinginan, ide dan pendapat, serta sifat dan kepribadian. Jangan sampai terjadi seorang suami/isteri memendam perasaan tidak enak kepada pasangannya karena prasangka buruk, atau karena kelemahan/kesalahan yang ada pada suami/isteri. Jika hal yang demikian terjadi hal yang demikian, hendaknya suami/isteri segera introspeksi (bermuhasabah) dan mengklarifikasi penyebab masalah atas dasar cinta dan kasih sayang, selanjutnya mencari solusi bersama untuk penyelesaiannya. Namun apabila perasaan tidak enak itu dibiarkan maka dapat menyebabkan interaksi suami/isteri menjadi tidak sehat dan potensial menjadi sumber konflik berkepanjangan.
3. Sikap toleran (Tasamuh)
Dua insan yang berbeda latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup bersatu dalam pernikahan, tentunya akan menimbulkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam cara berfikir, memandang suatu permasalahan, cara bersikap/bertindak, juga selera (makanan, pakaian, dsb). Potensi perbedaan tersebut apabila tidak disikapi dengan sikap toleran (tasamuh) dapat menjadi sumber konflik/perdebatan. Oleh karena itu masing-masing suami/isteri harus mengenali dan menyadari kelemahan dan kelebihan pasangannya, kemudian berusaha untuk memperbaiki kelemahan yang ada dan memupuk kelebihannya. Layaknya sebagai pakaian (seperti yang Allah sebutkan dalam QS. Albaqarah:187).
¨@Ïmé& öNà6s9 s's#øs9 ÏQ$uŠÅ_Á9$# ß]sù§9$# 4n<Î) öNä3ͬ!$|¡ÎS 4 £`èd Ó¨$t6Ï9 öNä3©9 öNçFRr&ur Ó¨$t6Ï9 £`ßg©9 3 zNÎ=tæ ª!$# öNà6¯Rr& óOçGYä. šcqçR$tFøƒrB öNà6|¡àÿRr& z>$tGsù öNä3øn=tæ $xÿtãur öNä3Ytã ( z`»t«ø9$$sù £`èdrçŽÅ³»t/ (#qäótFö/$#ur
 $tB |=tFŸ2 ª!$# öNä3s9 4 (#qè=ä.ur (#qç/uŽõ°$#ur 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ ãNä3s9 äÝøsƒø:$# âÙuö/F{$# z`ÏB ÅÝøsƒø:$# ÏŠuqóF{$#
 z`ÏB ̍ôfxÿø9$# ( ¢OèO (#qJÏ?r& tP$uÅ_Á9$# n<Î) È@øŠ©9$# 4 Ÿwur  ÆèdrçŽÅ³»t7è? óOçFRr&ur tbqàÿÅ3»tã Îû ÏÉf»|¡yJø9$# 3 y7ù=Ï? ߊrßãn «!$# Ÿxsù $ydqç/tø)s? 3 y7Ï9ºxx. ÚúÎiüt6ムª!$# ¾ÏmÏG»tƒ#uä Ĩ$¨Y=Ï9 óOßg¯=yès9 šcqà)­Gtƒ ÇÊÑÐÈ  
Artinya : Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf[115] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
Dengan demikian maka suami/isteri harus mampu mem-percantik penampilan, artinya berusaha memupuk kebaikan yang ada (capacity building); dan menutup aurat artinya berupaya meminimalisir kelemahan/kekurangan yang ada.
Prinsip “hunna libasullakum wa antum libasullahun (QS. 2:187) antara suami dan isteri harus selalu dipegang, karena pada hakikatnya suami/isteri telah menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipandang secara terpisah. Kebaikan apapun yang ada pada suami merupakan kebaikan bagi isteri, begitu sebaliknya; dan kekurangan/ kelemahan apapun yang ada pada suami merupakan kekurangan/kelemahan bagi isteri, begitu sebaliknya; sehingga muncul rasa tanggung jawab bersama untuk memupuk kebaikan yang ada dan memperbaiki kelemahan yang ada.
Sikap toleran juga menuntut adanya sikap mema’afkan, yang meliputi 3 (tiga) tingkatan, yaitu: (1) Al ‘Afwu yaitu mema’afkan orang jika memang diminta, (2) As-Shofhu yaitu mema’afkan orang lain walaupun tidak diminta, dan (3) Al-Maghfirah yaitu memintakan ampun pada Allah untuk orang lain. Dalam kehidupan rumah tangga, seringkali sikap ini belum menjadi kebiasaan yang melekat, sehingga kesalahan-kesalahan kecil dari pasangan suami/isteri kadangkala menjadi awal konflik yang berlarut-larut. Tentu saja “mema’afkan” bukan berarti “membiarkan” kesalahan terus terjadi, tetapi mema’afkan berarti berusaha untuk memberikan perbaikan dan peningkatan.
4. Komunikasi (Musyawarah)
Tersumbatnya saluran komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak dalam kehidupan rumah tangga akan menjadi awal kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Komunikasi sangat penting, disamping akan meningkatkan jalinan cinta kasih juga menghindari terjadinya kesalahfahaman.
Kesibukan masing-masing jangan sampai membuat komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak menjadi terputus. Banyak saat/kesempatan yang bisa dimanfaatkan, sehingga waktu pertemuan yang sedikit bisa memberikan kesan yang baik dan mendalam yaitu dengan cara memberikan perhatian (empati), kesediaan untuk mendengar, dan memberikan respon berupa jawaban atau alternatif solusi. Misalnya saat bersama setelah menunaikan shalat berjama’ah, saat bersama belajar, saat bersama makan malam, saat bersama liburan (rihlah), dan saat-saat lain dalam interaksi keseharian, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan sarana telekomunikasi berupa surat, telephone, email, dsb.
Al-qur’an dengan indah menggambarkan bagaimana proses komunikasi itu berlangsung dalam keluarga Ibrahim As sebagaimana dikisahkan dalam QS.As-Shaaffaat:102.
$¬Hs>sù x÷n=t/ çmyètB zÓ÷ë¡¡9$# tA$s% ¢Óo_ç6»tƒ þÎoTÎ) 3ur& Îû ÏQ$uZyJø9$# þÎoTr& y7çtr2øŒr& öÝàR$$sù #sŒ$tB 2ts? 4 tA$s% ÏMt/r'¯»tƒ ö@yèøù$# $tB ãtB÷sè? ( þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# z`ÏB tûïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÉËÈ  
Artinya : Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".
Ibrah yang dapat diambil dalam kisah tersebut adalah adanya komunikasi yang timbal balik antara orang tua-anak, Ibrahim mengutarakan dengan bahasa dialog yaitu meminta pendapat pada Ismail bukan menetapkan keputusan, adanya keyakinan kuat atas kekuasaan Allah, adanya sikap tunduk/patuh atas perintah Allah, dan adanya sikap pasrah dan tawakkal kepada Allah; sehingga perintah yang berat dan tidak logis tersebut dapat terlaksana dengan kehendak Allah yang menggantikan Ismail dengan seekor kibas yang sehat dan besar.
5. Sabar dan Syukur
Allah SWT mengingatkan kita dalam Alqur’an surat At Taghabun ayat 14:
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä žcÎ) ô`ÏB öNä3Å_ºurør& öNà2Ï»s9÷rr&ur #xrßtã öNà6©9 öNèdrâx÷n$$sù 4 bÎ)ur (#qàÿ÷ès? (#qßsxÿóÁs?ur (#rãÏÿøós?ur  cÎ*sù ©!$# Öqàÿxî íOÏm§ ÇÊÍÈ  
Artinya : Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[1479] Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Peringatan Allah tersebut nyata dalam kehidupan rumah tangga dimana sikap dan tindak tanduk suami/istri dan anak-anak kadangkala menunjukkan sikap seperti seorang musuh, misalnya dalam bentuk menghalangi-halangi langkah dakwah walaupun tidak secara langsung, tuntutan uang belanja yang nilainya di luar kemampuan, menuntut perhatian dan waktu yang lebih, prasangka buruk terhadap suami/isteri, tidak merasa puas dengan pelayanan/nafkah yang diberikan isteri/suami, anak-anak yang aktif dan senang membuat keributan, permintaan anak yang berlebihan, pendidikan dan pergaulan anak, dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut tidak dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan hati, bukan tidak mungkin akan membawa pada jurang kehancuran rumah tangga.
Dengan kesadaran awal bahwa isteri dan anak-anak dapat berpeluang menjadi musuh, maka sepatutnya kita berbekal diri dengan kesabaran. Merupakan bagian dari kesabaran adalah keridhaan kita menerima kelemahan/kekurangan pasangan suami/isteri yang memang diluar kesang-gupannya. Penerimaan terhadap suami/isteri harus penuh sebagai satu “paket”, dia dengan segala hal yang melekat pada dirinya, adalah dia yang harus kita terima secara utuh, begitupun penerimaan kita kepada anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya. Ibaratnya kesabaran dalam kehidupan rumah tangga merupakan hal yang fundamental (asasi) untuk mencapai keberkahan, sebagaimana ungkapan bijak berikut:“Pernikahan adalah Fakultas Kesabaran dari Universitas Kehidupan”. Mereka yang lulus dari Fakultas Kesabaran akan meraih banyak keberkahan.
Syukur juga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan berumah tangga. Rasulullah mensinyalir bahwa banyak di antara penghuni neraka adalah kaum wanita, disebabkan mereka tidak bersyukur kepada suaminya.
Mensyukuri rezeki yang diberikan Allah lewat jerih payah suami seberapapun besarnya dan bersyukur atas keadaan suami tanpa perlu membanding-bandingkan dengan suami orang lain, adalah modal mahal dalam meraih keberkahan; begitupun syukur terhadap keberadaan anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya, adalah modal masa depan yang harus dipersiapkan.
Dalam keluarga harus dihidupkan semangat “memberi” kebaikan, bukan semangat “menuntut” kebaikan, sehingga akan terjadi surplus kebaikan. Inilah wujud tambahnya kenikmatan dari Allah, sebagaimana firmannya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih
(QS. Ibrahim:7).
øŒÎ)ur šc©Œr's? öNä3š/u ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyƒÎV{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓƒÏt±s9 ÇÐÈ  
Artinya : dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Mensyukuri kehadiran keturunan sebagai karunia Allah, harus diwujudkan dalam bentuk mendidik mereka dengan pendidikan Rabbani sehingga menjadi keturunan yang menyejukkan hati. Keturunan yang mampu mengemban misi risalah dien ini untuk masa mendatang, maka jangan pernah bosan untuk selalu memanjatkan do’a:
Ya Rabb, karuniakanlah kami isteri dan keturunan yang sedap dipandang mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang yang bertaqwa.
Ya Rabb, karuniakanlah kami anak-anak yang sholeh.
Ya Rabb, karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang baik.
Ya Rabb, karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang Engkau Ridha-i.
Ya Rabb, jadikanlah kami dan keturunan kami orang yang mendirikan shalat.
Do’a diatas adalah ungkapan harapan para Nabi dan Rasul tentang sifat-sifat (muwashshofat) ketuturunan (dzurriyaat) yang diinginkan, sebagaimana diabadikan Allah dalam Alqur’an diantaranya
 (QS. Al-Furqon:74)
tûïÏ%©!$#ur šcqä9qà)tƒ $oY­/u ó=yd $oYs9 ô`ÏB $uZÅ_ºurør& $oYÏG»­ƒÍhèŒur no§è% &úãüôãr& $oYù=yèô_$#ur šúüÉ)­FßJù=Ï9 $·B$tBÎ)  
Artinya : dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
( QS. Ash-Shaafaat:100 )
Éb>u ó=yd Í< z`ÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$# ÇÊÉÉÈ  
Artinya :Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.

( QS.Al-Imran:38 )
šÏ9$uZèd $tãyŠ $­ƒÌŸ2y ¼çm­/u ( tA$s% Éb>u ó=yd Í< `ÏB šRà$©! Zp­ƒÍhèŒ ºpt7ÍhsÛ ( š¨RÎ) ßìÏÿxœ Ïä!$tã$!$# ÇÌÑÈ  
Artinya :di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".
(QS. Maryam: 5-6 )
ÎoTÎ)ur àMøÿÅz uÍ<ºuqyJø9$# `ÏB Ïä!#uur ÏMtR$Ÿ2ur ÎAr&tøB$# #\Ï%%tæ ó=ygsù Í< `ÏB šRà$©! $wŠÏ9ur ÇÎÈ   ÓÍ_èO̍tƒ ß^̍tƒur ô`ÏB ÉA#uä z>qà)÷ètƒ ( ã&ù#yèô_$#ur Éb>u $|ÅÊu ÇÏÈ  
Artinya : dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku[898] sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai".
Yang dimaksud oleh Zakaria dengan mawali ialah orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusannya sepeninggalnya.Yang dikhawatirkan Zakaria ialah kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, karena tidak seorangpun diantara mereka yang dapat dipercayainva, oleh sebab itu Dia meminta dianugerahi seorang anak.
( QS. Ibrahim:40).
Éb>u ÓÍ_ù=yèô_$# zOŠÉ)ãB Ío4qn=¢Á9$# `ÏBur ÓÉL­ƒÍhèŒ 4 $oY­/u ö@¬6s)s?ur Ïä!$tãߊ ÇÍÉÈ  
Artinya :Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.
Pada intinya keturunan yang diharapkan adalah keturunan yang sedap dipandang mata (Qurrota a’yun), yaitu keturunan yang memiliki sifat penciptaan jasad yang sempurna (thoyyiba), ruhaniyah yang baik (sholih), diridhai Allah karena misi risalah dien yang diperjuangkannya (wali radhi), dan senantiasa dekat dan bersama Allah (muqiimash-sholat).
Demikianlah hendaknya harapan kita terhadap anak, agar mereka memiliki muwashofaat tersebut, disamping upaya (ikhtiar) kita memilihkan guru/sekolah yang baik, lingkungan yang sehat, makanan yang halal dan baik (thoyyib), fasilitas yang memadai, keteladanan dalam keseharian, dsb; hendaknya kita selalu memanjatkan do’a tersebut.
6. Sikap yang santun dan bijak (Mu’asyarah bil Ma’ruf)
Merawat cinta kasih dalam keluarga ibaratnya seperti merawat tanaman, maka pernikahan dan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan indah, diantaranya dengan mu’asyarah bil ma’ruf. Rasulullah saw menyatakan bahwa : “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap isteriku.” (HR.Thabrani & Tirmidzi)
Sikap yang santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam interaksi kehidupan berumah tangga akan menciptakan suasana yang nyaman dan indah. Suasana yang demikian sangat penting untuk perkembangan kejiwaan (maknawiyah) anak-anak dan pengkondisian suasana untuk betah tinggal di rumah.
Ungkapan yang menyatakan “Baiti Jannati” (Rumahku Syurgaku) bukan semata dapat diwujudkan dengan lengkapnya fasilitas dan luasnya rumah tinggal, akan tetapi lebih disebabkan oleh suasana interaktif antara suami-isteri dan orang tua-anak yang penuh santun dan bijaksana, sehingga tercipta kondisi yang penuh keakraban, kedamain, dan cinta kasih.
Sikap yang santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang mapan. Ketika kondisi ruhiyah seseorang labil maka kecenderungannya ia akan bersikap emosional dan marah-marah, sebab syetan akan sangat mudah mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah saw mengingatkan secara berulang-ulang agar jangan marah (Laa tagdlob). Bila muncul amarah karena sebab-sebab pribadi, segeralah menahan diri dengan beristigfar dan mohon perlindungan Allah (ta’awudz billah), bila masih merasa marah hendaknya berwudlu dan mendirikan shalat. Namun bila muncul marah karena sebab orang lain, berusahalah tetap menahan diri dan berilah ma’af, karena Allah menyukai orang yang suka mema’afkan. Ingatlah, bila karena sesuatu hal kita telanjur marah kepada anak/isteri/suami, segeralah minta ma’af dan berbuat baiklah sehingga kesan (atsar) buruk dari marah bisa hilang. Sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi jiwa, baik orang yang marah maupun bagi orang yang dimarahi.
7. Kuatnya hubungan dengan Allah (Quwwatu shilah billah)
Hubungan yang kuat dengan Allah dapat menghasilkan keteguhan hati (kemapanan ruhiyah), sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Ar-Ra’du:28.
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ÉÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ÉÎ/ «!$# ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ  
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
            “Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang”. Keberhasilan dalam meniti kehidupan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh keteguhan hati/ketenangan jiwa, yang bergantung hanya kepada Allah saja (ta’alluq billah). Tanpa adanya kedekatan hubungan dengan Allah, mustahil seseorang dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan besar dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah saw sendiri selalu memanjatkan do’a agar mendapatkan keteguhan hati: “Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thoo’atika” (wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’ati-Mu).
Keteguhan hati dapat diwujudkan dengan pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), sehingga ia merasakan kebersamaan Allah dalam segala aktifitasnya (ma’iyatullah) dan selalu merasa diawasi Allah dalam segenap tindakannya (muraqobatullah). Perasaan tersebut harus dilatih dan ditumbuhkan dalam lingkungan keluarga, melalui pembiasaan keluarga untuk melaksanakan ibadah nafilah secara bertahap dan dimutaba’ah bersama, seperti : tilawah, shalat tahajjud, shaum, infaq, do’a, ma’tsurat, dll. Pembiasaan dalam aktifitas tersebut dapat menjadi sarana menjalin keakraban dan persaudaraan (ukhuwah) seluruh anggota keluarga, dan yang penting dapat menjadi sarana mencapai taqwa dimana Allah swt menjamin orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath-Thalaaq: 2-3.
#sŒÎ*sù z`øón=t/ £`ßgn=y_r& £`èdqä3Å¡øBr'sù >$rã÷èyJÎ/ ÷rr& £`èdqè%Í$sù 7$rã÷èyJÎ/ (#rßÍkô­r&ur ôursŒ 5Aôtã óOä3ZÏiB (#qßJŠÏ%r&ur noy»yg¤±9$# ¬! 4 öNà6Ï9ºsŒ àátãqム¾ÏmÎ/ `tB tb%x. ÚÆÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 `tBur È,­Gtƒ ©!$# @yèøgs ¼ã&©! %[`tøƒxC ÇËÈ   çmø%ãötƒur ô`ÏB ß]øym Ÿw Ü=Å¡tFøts 4 `tBur ö@©.uqtGtƒ n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym 4 ¨bÎ) ©!$# à÷Î=»t/ ¾Ín̍øBr& 4 ôs% Ÿ@yèy_ ª!$# Èe@ä3Ï9 &äóÓx« #Yôs% ÇÌÈ  
Artinya :apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.
Artinya: dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi-nya jalan keluar (solusi) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (keperluan) nya.”
Wujud indahnya keberkahan keluarga
Keberkahan dari Allah akan muncul dalam bentuk kebahagiaan hidup berumah tangga, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan di dunia, boleh jadi tidak selalu identik dengan kehidupan yang mewah dengan rumah dan perabotan yang serba lux. Hati yang selalu tenang (muthma’innah), fikiran dan perasaan yang selalu nyaman adalah bentuk kebahagiaan yang tidak bisa digantikan dengan materi/kemewahan.
Kebahagiaan hati akan semakin lengkap jika memang bisa kita sempurnakan dengan 4 (empat) hal seperti dinyatakan oleh Rasulullah, yaitu : (1) Isteri yang sholihah, (2) Rumah yang luas, (3) Kendaraan yang nyaman, dan (4) Tetangga yang baik.
Kita bisa saja memanfaatkan fasilitas rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman tanpa harus memiliki, misalnya di saat-saat rihlah, safar, silaturahmi, atau menempati rumah dan kendaraan dinas. Paling tidak keterbatasan ekonomi yang ada tidak sampai mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, karena pemilik hakiki adalah Allah swt yang telah menyediakan syurga dengan segala kenikmatan yang tak terbatas bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, dan menjadikan segala apa yang ada di dunia ini sebagai cobaan.
Kebahagiaan yang lebih penting adalah kebahagiaan hidup di akhirat, dalam wujud dijauhkannya kita dari api neraka dan dimasukkannya kita dalam syurga. Itulah hakikat sukses hidup di dunia ini, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Imran : 185
@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# 3 $yJ¯RÎ)ur šcöq©ùuqè? öNà2uqã_é& tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ( `yJsù yyÌômã Ç`tã Í$¨Y9$# Ÿ@Åz÷Šé&ur sp¨Yyfø9$# ôs)sù y$sù 3 $tBur äo4quŠyÛø9$# !$u÷R$!$# žwÎ) ßì»tFtB Írãäóø9$# ÇÊÑÎÈ  
Artinya : tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Selanjutnya alangkah indahnya ketika Allah kemudian memanggil dan memerintahkan kita bersama-sama isteri/suami dan anak-anak untuk masuk kedalam syurga; sebagaimana dikhabarkan Allah dengan firman-Nya:

(QS, Az-Zukhruf:70)
(#qè=äz÷Š$# sp¨Yyfø9$# óOçFRr& ö/ä3ã_ºurør&ur šcrçŽy9øtéB ÇÐÉÈ  
Artinya :masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan".
 (QS. Ath-Thuur:21).
tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä öNåk÷Jyèt7¨?$#ur NåkçJ­ƒÍhèŒ ?`»yJƒÎ*Î/ $uZø)ptø:r& öNÍkÍ5 öNåktJ­ƒÍhèŒ !$tBur Nßg»oY÷Gs9r& ô`ÏiB OÎgÎ=uHxå `ÏiB &äóÓx« 4
@ä. ¤ÍöD$# $oÿÏ3 |=|¡x. ×ûüÏdu ÇËÊÈ  
Artinya : dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Daftar Rujukan
Achmad Sunarto, Terjemah Hadits Sholeh Muslim ( Bandung : Husairi 2002 )
Aida Al-Qarri, Menjadi Wanita Paling Bahagia  ( Jakarta: Qisthi Press, 2005 )
Departemen Agama RI, Al- Qur’an Terjemah Per-Kata ( Jakarta: SYGMA, 2008 )
Mahjuddin, Masail Al-Fiqh ( Jakarta: Kalam Mulia, 2012 )
Muhammad Ali, Fiqih Nikah ( STAIN Jurai Siwo Metro, 2012 )
Labib MZ & Aqis Bil Qisrhi, Risalah Fiqih Wanita ( Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2005 )
Sahhid Sabiq,  Fiqih Sunnah, (Bandung: Al Ma’arif, 1978 )





[1] Makalah disampaikan pada kegiatan Kajihan Syariat Muslimah (KARIMAH) UKM Lembaga Dakwah Kampus  Al-Ishlah Kampus STAIN Jurai Siwo Metro Lampung, Jum’at, 05 April 2013
[2] Dosen Mata Kuliah Fiqih Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam STAIN Jurai Siwo Metro Lampung

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More